Melanjutkan Pendidikan
Salam sukses buat anda pengunjung fauzichaniago.blogspot.com. pada kesempatan ini akan mengutarakan sebuah kisah inspirasi buat anda yang punya kemauan untuk lebih maju.
Adapun untaian kata ini merupakan kisah dan pengalaman aku sendiri sebagai admin fauzichaniago.blogspot.com
Aku bekerja sebagai operator komputer di sebuah toko photo copy dan percetakan yang berada di kawasan Rawamangun Jakarta Timur.
Semenjak tahun 1998 hingga kisah ini di paparkan masih bekerja sebagai operator komputer, tapi sudah sempat juga memiliki usaha sendiri, namun karena sesuatu hal usaha tersebut mengalami kemunduran hingga bekerja lagi sebagai operator komputer di tempat saudara sepupu.
Penghasilan sebagai operator komputer boleh dibilang cukup untuk keluarga satu orang istri tiga orang anak. Walaupun demikian istriku Friska juga ikut membantu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuat kue rumahan yang di pasarkan lewat warung-warung sekitar tempat tinggal.
O... ya tempat tinggalku beserta keluarga sekarang ini masih mengontrak sebuah rumah sederhana alias kost yang cukup untuk tidur, memasak dan kamar mandi. Kost hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamu yang tidak begitu luas.
Pada tahun 2019 ini anakku yang pertama sudah menamatkan pendidikannya di SMK 33 Kelapa Gading, Jakarta Utara dan memiliki prestasi yang bagus.
Anak pertama bernama Audya, anak kedua bernama Zulfa masih duduk kelas 3 di SMK 40 Jakarta dan anak ketiga Syauqi dan saat artikel ini ditulis udah kelas 6 Sekolah Dasar.
Dapat dibayangkan berapa pengeluaran untuk biaya hidup dan sekolah anak setiap harinya. Apalagi hidup di Kota Besar seperti Jakarta, semua serba bayar tak ada yang gratis.
Tapi yang namanya hidup, kami selalu bergantung pada Allah SWT. Apabila kita serahkan padaNya pasti Dia Yang Maha Mencukupi.
Audya sudah tamat SMK, sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Dia sangat maklum dengan kondisi orang tuanya yang tidak punya tabungan yang cukup untuk membiayai kuliah di Perguruan tinggi.
Adapun untaian kata ini merupakan kisah dan pengalaman aku sendiri sebagai admin fauzichaniago.blogspot.com
Aku bekerja sebagai operator komputer di sebuah toko photo copy dan percetakan yang berada di kawasan Rawamangun Jakarta Timur.
Semenjak tahun 1998 hingga kisah ini di paparkan masih bekerja sebagai operator komputer, tapi sudah sempat juga memiliki usaha sendiri, namun karena sesuatu hal usaha tersebut mengalami kemunduran hingga bekerja lagi sebagai operator komputer di tempat saudara sepupu.
Penghasilan sebagai operator komputer boleh dibilang cukup untuk keluarga satu orang istri tiga orang anak. Walaupun demikian istriku Friska juga ikut membantu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuat kue rumahan yang di pasarkan lewat warung-warung sekitar tempat tinggal.
O... ya tempat tinggalku beserta keluarga sekarang ini masih mengontrak sebuah rumah sederhana alias kost yang cukup untuk tidur, memasak dan kamar mandi. Kost hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamu yang tidak begitu luas.
Pada tahun 2019 ini anakku yang pertama sudah menamatkan pendidikannya di SMK 33 Kelapa Gading, Jakarta Utara dan memiliki prestasi yang bagus.
Anak pertama bernama Audya, anak kedua bernama Zulfa masih duduk kelas 3 di SMK 40 Jakarta dan anak ketiga Syauqi dan saat artikel ini ditulis udah kelas 6 Sekolah Dasar.
Dapat dibayangkan berapa pengeluaran untuk biaya hidup dan sekolah anak setiap harinya. Apalagi hidup di Kota Besar seperti Jakarta, semua serba bayar tak ada yang gratis.
Tapi yang namanya hidup, kami selalu bergantung pada Allah SWT. Apabila kita serahkan padaNya pasti Dia Yang Maha Mencukupi.
Audya sudah tamat SMK, sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Dia sangat maklum dengan kondisi orang tuanya yang tidak punya tabungan yang cukup untuk membiayai kuliah di Perguruan tinggi.
Dari situlah muncul jiwa kemandiriannya, dan bertekad akan tetap kuliah tanpa harus membebankan orang tua.
Audya mencoba melamar kerja, dengan modal keahlian sebagai operator komputer seperti ayahnya.
Alhamdulillah karena ada keahlian, Audya diterima bekerja di sebuah toko yang bergerak dibidang jasa digital printing sama seperti tempat ayahnya bekerja.
O...ya pada saat itu adalah masa-masa yang sulit bagi sang ayah, lebaran tak lama lagi, toko yang dikelola sang ayah di ambil alih sama pemiliknya jadilah ayah seorang pengangguran sedangkan tabungan tak punya, kontrakan rumah udah telat.
Berharap bisa gabung sama ponakan, tapi tokonya juga sepi.
Waktu itu bertepatan sebelum lebaran, toko kakak sepupu operator komputernya pada pulang kampung, ayah di panggil untuk bekerja di tokonya.
Audya diterima di sebuah kampus di Jakarta dengan jurusan Manajemen.
Audya bilang sama Ayah dan Mama, Audya akan tetap kuliah, tapi Audya tidak akan memberatkan ayah dan mama. Audya akan kerja untuk mendapatkan uang biaya kuliah, ayah dan mama tinggal cari buat makan serta biaya sekolah Zulfa dan Oqy.
Mendengar kata-kata anak seperti itu, air mata tanpa disadari mengalir dengan sendirinya.
Sebagai seorang ayah punya tanggung jawab untuk membiayai pendidikan anak hingga ke jenjang yang lebih tinggi, namun apalah daya keadaan ekonomi lagi turun.
Dengan bertawaqal pada Allah SWT. ayah mengizinkan dan mendukung Audya untuk melanjutkan kuliah.
Pepatah minang mengatakan "Dimaa Tumbuah Disitu Disiang".
Jalani aja dahulu nanti dimana ada kendala disitu ada solusinya.
Dengan sangat bersyukur pada Allah SWT. hasil kerja Audya cukup untuk membayar uang pangkal Kuliahnya bahkan bisa kirim uang untuk Neneknya di kampung.
Ayah bangga padamu nak, kamu bisa berpijak pada kakimu sendiri. Walau ada yang mencemooh, kuliahmu akan terhenti di tengah jalan karena ayahmu hanya bekerja sama orang, tidak akan sanggup membiayai kuliahmu, namun kamu tetap semangat, bahkan kamu bertekad untuk membuktikan bahwa kamu bisa. Semoga Allah Melancarkan Tujuanmu.
Sekarang Audya udah mulai kuliah dan tetap kerja.
Demikian dulu kisah inspirasi ini, kelanjutannya tunggu dimasa-masa kuliah.